INI CERITA FASILITATOR REMAJA SAAT AJAK ANAK KE LINGKAR REMAJA

Dian Haneefa | 27-Oct-2017 | 12:12:06
Tugas awal fasilitator remaja yang telah direkrut untuk mengkampanyekan pencegahan pernikahan usia anak ialah membentuk forum Lingkaran Remaja yang diisi 40 anak pada setiap desa/kelurahan. Saat ini, fasilitator dalam tahap perekrutan remaja yang akan bergabung dalam Lingkaran Remaja tersebut. Salah satu fasilitator remaja Kecamatan Mamuju, Rahmiati Ramlie memiliki cerita unik saat mengajak remaja bergabung ke lingkaran.
Perempuan yang akrab disapa Rahmi ini mengaku punya berbagai pengalaman baru saat berhadapan dengan remaja. Katanya, saat mengajak sekelompok anak ke lingkaran, ia mengeluarkan kertas dan pulpen dari tasnya, yang tidak ia sangka, antusias anak-anak untuk menulis, bahkan meminta tambahan pulpen dan kertas kepadanya.
“Menariknya, ada seorang anak yang juga ikut rebutan minta pulpen dan kertas, tapi saat temannya menuliskan alamat rumah, anak itu malah menggambar rute seperti peta, berliku-liku. Belakangan baru saya tahu kalau dia ternyata tidak bisa baca tulis, tapi saya suka semangatnya untuk ikut menulis seperti teman-temannya.” Tutur Rahmi, Kamis (26/10).
Diantara pengalamannya merekrut remaja sejak Selasa (24/10), ia mengaku punya satu cerita yang paling berkesan, yaitu saat mengajak anak-anak penjual stiker di Anjungan Pantai Manakarra. Respon mereka sangat baik, bahkan mereka mengakrabkan diri dengan bercerita tentang aktivitas kesehariannya. Yang berkesan menurut Rahmi, saat momen bertemu kembali dengan anak penjual stiker tersebut lalu anak itu menawarkan stikernya, tapi setelah melihat wajah Rahmi anak itu malah berkata ‘Eh kenapa ku juali ki’ stiker ku’ di’ kak. Hehe…’
“itu yang sangat berkesan menurutku’, mereka batal menawarkan stikernya ke saya, mungkin karena mereka menganggap saya sebagai teman, begitupun dengan saya, saya merasa bagian dari mereka yang semenjak hari itu tidak akan ditawari stiker lagi seperti pengunjung anjungan lainnya, (sambil tertawa) Lucu kalau mengingat ekspresi anak itu.” Guraunya.
Selain itu, Rahmi juga punya pengalaman diabaikan oleh remaja. Ia sempat menghampiri remaja SMP sepulang sekolah, namun dari kurang lebih 10 anak, hanya 3 orang yang bersedia mendengarkannya.
“itu juga tantangannya di kota, ajakan untuk berkumpul bersama orang lain sepertinya bukan hal menarik bagi remaja. Di sini juga terlalu banyak pilihan aktivitas bagi mereka, tapi pada dasarnya mereka ingin belajar yang menyenangkan.” Urai Rahmi yang mendapat wilayah kerja di Kelurahan Binanga.
Berbeda dengan Rahmi, salah satu fasilitator remaja Kecamatan Kalukku Jaja Wiharja yang akrab disapa Panji bercerita, tantangan yang ia temukan saat perekrutan ialah kondisi jalan ke Desa Pamulukang, tempat ia menjadi fasilitator remaja. Di lokasi tersebut tidak seperti jalanan di Kota Mamuju yang mulus-mulus saja, tetapi ia bersama timnya mesti melalui jalanan yang terjal dan berliku. Untungya, kata Panji, anak-anak remaja disana cukup antusias menyambut ajakannya masuk ke Lingkaran Remaja.
“Menuju Desa Pamulukang cukup menguras tenaga, karena kondisi jalannya yang kurang baik, jadi kita mesti ekstra hati-hati mengendarai motor. Untungnya anak-anak di sana cukup antusias, mereka mengharapkan dapat pengetahuan di dalam lingkaran dan memberi contoh ke teman-temannya. Mereka juga semangat untuk mengajak temannya yang lain, karena katanya sudah banyak temannya yang sekarang putus sekolah.” Urainya.
Panji mengaku mendapat respon yang baik dari anak remaja maupun orang tua anak. Meski di balik itu, ia juga sempat mendapat penolakan dari beberapa anak remaja, dengan alasan malu untuk berkumpul bersama orang lain, namun timnya melakukan pendekatan dengan mengajak anak berbincang-bincang, lalu kembali membujuk, sampai akhirnya anak tersebut bersedia ikut lingkaran.
“kami mengakrabkan diri agar anak itu tidak segan dan malu, kami ajak cerita, kami juga sempat meminta air minum di rumahnya, lama-kelamaan anak itu mulai akrab dan mau bergabung di lingkaran, bahkan ia kembali menawarkan air minumnya ke kami. Itu cukup berkesan.” Kata Panji.
Fasilitator remaja diberi waktu hingga tanggal 31 Oktober untuk mengumpulkan 40 nama remaja per desa/ kelurahan. Selanjutnya, dijadwalkan tanggal 7 November, pertemuan perdana Lingkaran Remaja di masing-masing desa/kelurahan. Adapun desa/kelurahan yang terpilih menjadi pilot program yaitu, Desa Karampuang, Desa Batu Pannu dan Kelurahan Binanga untuk wilayah Kecamatan Mamuju, lalu Desa Belang-Belang, Desa Pamulukang dan Kelurahan Kalukku di Kecamatan Kalukku’. (dhl)
http://yayasankarampuang.or.id/hasil_informasi/?berita=ini_cerita_fasilitator_remaja_saat_ajak_anak_ke_lingkar_remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published.